Rabu, 22 Mei 2013

Cintai Pekerjaanmu

Ki, Ngapain kamu masuk Teknik kalau kamu tidak mencintai mata kuliahnya? Ngapain kamu masuk Teknik kalau kamu tidak mencintai labnya, praktikumnya?
Sebuah sentilan keras ke telingaku. sakit tapi memang bagitulah seharusnya.
Do what you love, love what you do~Anonim

Selasa, 21 Mei 2013

Sisa Usia yang Berkurang

Semalam (20/05), aku mengenang 6 (enam) tahun kepergian nenekku. Seorang perempuan hebat dalam hidupku. Ibu susuku, sebagian dari darah dan tulangku ini adalah milik nenek. Hampir seluruh rambutnya memutih, badannya kecil dan unyu, makanya kami (para cucunya) memanggilnya dengan atok menek, artinya nenek kecil. Dia lucu, dan tidak pernah marah, dan satu lagi, rasa sayangnya itu, ah tidak usah kau tanyakan lagi. Luar biasa buat kami. Dia pergi di saat seragam putih abu-abuku masih baru. Dan sekarang masa depanku lah yang abu-abu.

Hari ini (21/05) aku mengenang hari kelahiranku. Senang rasanya usiaku bertambah satu angka, dan sedih rasanya ketika aku sadar bahwa deadline kematianku semakin dekat, jatah kehidupanku semakin menipis. Hari ini fikiranku "digelitik" oleh perasaan dan fikiran aneh yang berusaha kutarik benang merahnya.

Rindu
Hari ini aku menerka-nerka dan membayangkan bagaimana ibuku melahirkanku. Bagaimana ibu berjuang melawan maut ketika melahirkanku? Bagaimana perasaan ibu selama 9 bulan membawaku kemana-mana? Bagaimana perasaan ibu ketika tahu bahwa anak yang dilahirkannya adalah laki-laki (lagi)? Pasti ibu sangat senang bukan, pasti ibu tersenyum dan sangat bahagia mendengar tangisan pertamaku. Pasti ibu sangat senang ketika ayah mengumandangkan adzan untuk menyambut kehadiranku. Pasti ibu tau setiap hari aku selalu merindukannya. Dan hari ini rinduku berlebih untukmu, rinduku berlipat-lipat. 95% rinduku untuk ibu. Selebihnya untuk ayah.

Kematian
Jika jatah usiaku hanya 60 tahun, maka hari ini sepertiga dari itu sudah kujalani dan kelihatannya juga sudah kusia-siakan. Jika jatah usiaku hanya 40 tahun, maka hari ini, lebih dari setengah sisanya sudah kujalani. Jika aku mati besok, jika aku mati muda, maka aku pasti terlempar ke neraka. Aku takut, persiapanku tidak cukup untuk kematian ini. Ini rahasia Tuhan, tidak usah bertanya kapan, cukup berfikir apa bekalmu nanti.
Jika ada hal yang membuatku ingin cepat pergi, itu hanyalah fikirin licik dan rinduku. Rinduku pada ayah membuatku ingin segera menemuinya. Tapi apakah sesudah mati aku bisa menemuinya? belum tentu.

Hidupku dan Masa Depanku
Selebihnya hari ini aku berfikir tentang hidupku. Apa yang sudah kulakukan untuk agamaku? untuk bangsaku? untuk keluargku? untuk masa depanku? Tentang kuliahku? Tentang jarakku dengan Tuhan yang semakin menjauh?
Perjuangan tentu saja masih berlanjut. Cita-cita besar butuh aksi yang besar, butuh usaha yang besar, butuh pengorbanan yang besar untuk mewujudkannya. And i'm on my way to find my passion.
Bismillah....
Keep fighting Ki..

Senin, 20 Mei 2013

Ayo Bangkit

Apa jadinya kalau kita "berandai-andai" hari Kebangkitan Nasional itu tidak pernah ada? Terlepas dari kontroversinya sendiri, Hari Kebangkitan Nasional itu adalah runtutan peristiwa besar dalam sejarah bangsa kita. Tanpa peristiwa ini, tidak mungkin rasanya ada yang namanya Sumpah Pemuda, proklamasi, apalagi reformasi. Tanpa Hari Kebangkitan, nama bangsa kita mungkin masih Hindia Belanda, bukan Indonesia. Mungkin kita tidak akan sebesar ini, tidak dari Sabang Sampai Merauke. Terlalu jauh bicara kemerdekaan.

Kemerdekaan kita adalah sesuatu yang diraih dengan sangat susah payah, dengan darah, dengan keberanian, dan dengan puluhan ribu nyawa yang harus direlakan hanya untuk sebuah kata ini, "merdeka".

Dari waktu ke waktu, kita tidak pernah tidak butuh pahlawan, kita selalu kekurangan mereka. Pahlawan adalah mereka yang keberaniannya luar biasa, ketakutannya hanya pada Tuhan. Bukan dengan bambu runcing dan senjata lagi. Dengan tantangan yang berbeda, dengan pena, ilmu pengetahuan, dan banyak hal lagi yang harus kita "merdekakan" dari bangsa ini.

Selamat Hari Kebangkitan Nasional
Selamat Berjuang
Ayo Bangkit..!!
~Riki Ananda Nasution

Jumat, 17 Mei 2013

Cinta (Monyet)

Seisi toko Sinar Harapan seakan runtuh ketika Ikal pertama kali melihat wajah A Ling. Seakan dunia ini dipenuhi bunga. Semerbak harum. Hanya karena si Ikal, anak berbau tengik, memandang seorang gadis manis, keturunan Tionghoa, dan Ikal benar-benar mabuk dengan cinta pertamanya.

SMP kelas 1 dulu, aku punya teman sekelas. Badanyya kurus ceking, kulitnya putih bersih, waktu itu tingginya sama denganku, hidungnya mancung, alisnya tebal, khas keturunan Arab, dan agak sedikit manis. Entah kenapa temanku ini menyukai seorang lelaki kecil, hitam, pesek, berambut ikal pula. Dan sialnya lelaki itu Aku, lebih sialnya (lagi) aku juga menyukainya. Dan syukurlah keluguan dan kepolosan Kami benar-benar membatasi kami. Aku hanya sekedar tahu, dan dia juga. Aku tahu dia sering menyengajakan diri lewat di depan rumahku hanya untuk curi-curi pandang kalau saja ada aku. Dan temannya (yang juga temanku) menjadi penyambung lidah kami.

Pagi ini, sesudah sembilan tahun berlalu, aku melihatnya lagi. Begitu banyak yang berubah dari dirinya. Lebih tinggi sudah pasti. Lebih cantik juga iya. Lebih manis juga sudah pasti. Tapi satu yang benar-benar berubah darinya. Senyumannya. Senyumannya benar-benar memabukkan, dan aku hampir gila. 

Aku gugup melihatnya, terlebih-lebih ketika ia tersenyum. Terus terang Aku semakin gugup dan tidak bisa mengajaknya bicara, hanya kalimat pendek yang pelan yang dapat kuucapkan, "Senyummu manis sekali h***r". Dan dia mencoba mengganti senyumannya dengan cemberut. Ah, sebuah senyuman yang ditahan. Sebuah cemberut yang dipaksa. Hal itu malah membuatnya semakin manis. I'm speechless. Aku lari sajalah. Pagi ini begitu indah

Kepada yang namanya yang persis sama dengan Ibunda Ismail a.s yang mulia
Aku mengenangmu.

Kamis, 16 Mei 2013

Belajar dari Susan Boyle

Materi utama seminar HVDC (High Voltage Direct Current) yang disampaikan Bang Terklin kamis (15/05) semalam benar-benar tidak saya ikuti dengan baik. Karena ditunjuk untuk mengkoordinir teman-teman seksi Konsumsi, sebagian besar fikiran saya memang terfokus untuk gimana caranya "mengenyangkan" perut peserta dan pemateri seminar, atau minimal mereka gak kelaparan dan kehausanlah, hehe :)

Materi selanjutnya adalah materi motivasi dari Alumni Teknik Elektro USu yang dibawakan oleh Bang Cawir. Ini juga tidak ada niat saya untuk mengikuti pemaparan materinya. Cuma karena ada pemutaran video, iseng-iseng saya masuk juga. Ternyata Bang Cawir sedang memutarkan video audisi Britain's Got Talent. Tepatnya Audisi Susan Boyle. Susan Boyle kelihatannya dianggap sepele oleh juri (dan sebagian besar penonton) ketika melihat penampilannya. Bayangkan saja seorang wanita yang sangat sangat (dua kali kata "sangat") sederhana, agak gendut, dan berumur relatif tua pula (47 tahun), masih bermimpi menjadi seorang penyanyi profesional dan ingin seperti penyanyi idolanya (Elaine Paige), sebagian besar penonton tentu saja menertawakannya. Tapi lihatlah ketika beberapa detik setelah ia mengeluarkan nyanyiannya. Semua orang terkagum-kagum mendengar suaranya, dan persepsi orang tentu saja berubah terhadap dia.


Ini sebenarnya video yang sudah lama (empat tahun yang lalu) dan sudah didengar ratusan juta kali. Merinding saya mendengar suaranya.
Pelajarannya apa Ki?

Mimpi hendaknya tidak dibatasi usia. Umur Susan Boyle sudah begitu tua, tapi ia masih bermimpi dan percaya dengan mimpinya. Meskipun semua oramg menertawakan mimpinya. bagaimana dengan kita? Apa mimpi kita? Apa kita malu untuk bermimpi besar?
Dan juga kita tidak bisa menilai kapasitas seseorang hanya dari penampilan fisiknya. Lihatlah Susan Boyle. Bakat dan kemampuannya begitu luar biasa.
Ini salah satu pelajaran yang saya dapatkan


*Ini bukan nasihat, ini hanya pelajaran untuk diri saya sendiri :)

Senin, 13 Mei 2013

Anak-Anak

Paling senang lihat anak-anak itu ketika mereka senyum dan tertawa. Aku pasti ikutan tersenyum dan tertawa. Dan aku akan tetap senyum dan tertawa (juga) kalau melihat mereka menangis. Khas sekali, sebentar-sebentar mereka menangis, tidak lama kemudian mereka tertawa dan bermain kembali. Seolah-olah tidak terjadi apa-apa sebelumnya.

Saya yakin hal paling membahagiakan di dunia itu ketika kita menjadi seorang anak yang mempunyai ayah. Sama bahagianya dengan seorang ayah yang (akan) mempunyai anak. Sejujurnya saya pengen jadi anak-anak (lagi), atau kalau tidak, saya jadi pengen cepat-cepat deh jadi ayah #eh...
hahaha





Minggu, 12 Mei 2013

Bike to Cemara Asri

Karena jadwal berangkatnya sebenarnya jam 06.00 WIB. Jadi sesudah sholat shubuh saya sudah bergerak dari rumah, takut telat. Sampai di kampus ternyata belum ada orang, ckckck..

Sesudah menunggu selama lebih dari sejam, akhirnya teman-teman yang lain berkumpul juga. Ada sepuluh orang yang ikutan funbike kali ini, lumayan banyak :D

Awalnya tujuan funbike-nya hanya ke Lapangan Merdeka (Lapmer), namun sesudah diskusi singkat akhirnya kami putuskan untuk berangkat ke Cemara Asri :)

Hal yang paling menarik di Cemara Asri itu bukan rumahnya yang mewah dan elite, melainkan danau buatannya yang keren. Ada banyak sekali burung bangaunya :)
Dek Evi dan dek Mashita ikutan senam :)

Efek dari Emansipasi, perempuan pun disuruh pompa sepeda :P

(B)ayu dan Ayu. Ternyata nama mereka mirip yah :)

Ini dimana ya?

Foto-foto di tugu Adipura

Masih disitu


Ikhsan, salah satu sesepuh BTC




Ini danaunya 

Bayu-Masitha-Evi

Ini siapa ya??

Dapat dimana burungnya Bang? :)



Awannya keren