Semalam (20/05), aku mengenang 6 (enam) tahun kepergian nenekku. Seorang perempuan hebat dalam hidupku. Ibu susuku, sebagian dari darah dan tulangku ini adalah milik nenek. Hampir seluruh rambutnya memutih, badannya kecil dan unyu, makanya kami (para cucunya) memanggilnya dengan atok menek, artinya nenek kecil. Dia lucu, dan tidak pernah marah, dan satu lagi, rasa sayangnya itu, ah tidak usah kau tanyakan lagi. Luar biasa buat kami. Dia pergi di saat seragam putih abu-abuku masih baru. Dan sekarang masa depanku lah yang abu-abu.
Hari ini (21/05) aku mengenang hari kelahiranku. Senang rasanya usiaku bertambah satu angka, dan sedih rasanya ketika aku sadar bahwa deadline kematianku semakin dekat, jatah kehidupanku semakin menipis. Hari ini fikiranku "digelitik" oleh perasaan dan fikiran aneh yang berusaha kutarik benang merahnya.
Rindu
Hari ini aku menerka-nerka dan membayangkan bagaimana ibuku melahirkanku. Bagaimana ibu berjuang melawan maut ketika melahirkanku? Bagaimana perasaan ibu selama 9 bulan membawaku kemana-mana? Bagaimana perasaan ibu ketika tahu bahwa anak yang dilahirkannya adalah laki-laki (lagi)? Pasti ibu sangat senang bukan, pasti ibu tersenyum dan sangat bahagia mendengar tangisan pertamaku. Pasti ibu sangat senang ketika ayah mengumandangkan adzan untuk menyambut kehadiranku. Pasti ibu tau setiap hari aku selalu merindukannya. Dan hari ini rinduku berlebih untukmu, rinduku berlipat-lipat. 95% rinduku untuk ibu. Selebihnya untuk ayah.
Kematian
Jika jatah usiaku hanya 60 tahun, maka hari ini sepertiga dari itu sudah kujalani dan kelihatannya juga sudah kusia-siakan. Jika jatah usiaku hanya 40 tahun, maka hari ini, lebih dari setengah sisanya sudah kujalani. Jika aku mati besok, jika aku mati muda, maka aku pasti terlempar ke neraka. Aku takut, persiapanku tidak cukup untuk kematian ini. Ini rahasia Tuhan, tidak usah bertanya kapan, cukup berfikir apa bekalmu nanti.
Jika ada hal yang membuatku ingin cepat pergi, itu hanyalah fikirin licik dan rinduku. Rinduku pada ayah membuatku ingin segera menemuinya. Tapi apakah sesudah mati aku bisa menemuinya? belum tentu.
Hidupku dan Masa Depanku
Selebihnya hari ini aku berfikir tentang hidupku. Apa yang sudah kulakukan untuk agamaku? untuk bangsaku? untuk keluargku? untuk masa depanku? Tentang kuliahku? Tentang jarakku dengan Tuhan yang semakin menjauh?
Perjuangan tentu saja masih berlanjut. Cita-cita besar butuh aksi yang besar, butuh usaha yang besar, butuh pengorbanan yang besar untuk mewujudkannya. And i'm on my way to find my passion.
Bismillah....
Keep fighting Ki..